Asal Muasal Kata Gorden dalam Bahasa Indonesia

hasil pemasangan gorden dari ianinterior
Gorden rumah minimalis ianinterior.co.id

Siapa yang tak mengenal gorden? Kain khusus yang digantung pada pintu dan jendela rumah ini memang sepertinya sudah menjadi aksesori wajib. Tak hanya sebagai hiasan, gorden ini bermanfaat untuk menghalangi sinar matahari yang masuk ke rumah pada siang hari, dan menjaga orang luar melihat ke dalam rumah pada malam hari. Seperti halnya taman tanpa bunga, jendela atau pintu juga akan terasa kurang cantik tanpa gorden.

Tidak cukup dijadikan aksesori rumah, saat ini gorden juga banyak dimanfaatkan untuk kepentingan lain. Seperti pentas seni di panggung hiburan, dekorasi pernikahan, dan yang lainnya. Beragam model gorden pun tersedia dan dapat dengan mudah kita temukan di pasaran. Mulai dari motif, corak, harga, bahan, semuanya tinggal pilih sesuai kebutuhan.

Tak hanya disebut “gorden,” sebagian besar masyarakat Indonesia juga menyebutnya dengan “hordeng” atau “tirai.” Dalam bahasa Inggris sendiri, “gorden” dilabeli dengan sebutan “curtain.” Jika ditelaah dari asal-usul katanya, kata “gorden” memang bukan merupakan serapan dari bahasa Inggris. “Gorden” dan “curtain,” sedikit mirip tentu saja, namun “rasa bahasanya” masih lain. Lalu, dari mana sebenarnya kata “gorden” itu berasal?

Sebelum membahas asal muasal kata gorden, ada baiknya kita mengenal sejarah gorden terlebih dulu. Nah, pada zaman dulu, penduduk asli Amerika Utara memanfaatkan kulit binatang yang disamak untuk dijadikan gorden. Mereka menggantungnya di jendela atau pintu rumah. Pun karena bahan dasarnya adalah kulit binatang, maka tirai pada zaman dahulu masih kaku dan kurang nyaman digunakan.

Selain itu, mereka juga memanfaatkan kain gorden ini untuk dijadikan tenda. Dengan rancangan pintu sedemikian rupa, gorden yang terbuat dari kulit binatang tersebut didesain menyerupai gorden lipat, agar mereka bisa dengan mudah keluar masuk tenda. Gorden pada zaman dulu juga bermanfaat untuk menyaring debu dan kotoran agar tak masuk ke tenda.

Seiring perkembangan industri tekstil dunia, maka produksi selimut dan tirai pun turut maju dan berkembang pesat. Setidaknya, Tiongkok, Persia, dan India yang merupakan negara-negara pelopor industri tekstil dunia, berhasil membawa pengaruh ini ke setiap rumah-rumah di Eropa dan Amerika.

Semasa Perang Salib berlangsung, para pedagang tekstil pun membawa contoh tenun (termasuk tirai atau gorden) dengan kualitas terbaik ke Eropa. Sejak saat itu, selama beberapa abad, banyak negara-negara di Eropa seperti Belanda, Italia, Perancis, dan Inggris terus meningkatkan kualitas produksi tekstilnya. Sejatinya, orang Barat banyak mengadaptasi selera kain mereka dari budaya Timur.

Pada abad pertengahan, saat harga barang masih melambung tinggi, tak banyak orang bisa membeli kain untuk kebutuhan sehari-hari mereka. Hanya orang dari kalangan menengah atas saja yang mampu memilikinya. Kain pada saat itu masih merupakan barang mewah. Baru pada Zaman Renaisans, saat orang-orang mulai sadar dengan privasi rumahnya, mereka memanfaatkan kain tekstil untuk dijadikan gorden.

Lalu, bagaimana asal muasal kata “gorden” dalam bahasa Indonesia? Ya, “gorden” yang kita kenal sekarang merupakan serapan dari kata berbahasa Belanda, “gordijn,” yang artinya tentu saja “tirai.” Kita tentu ingat bahwa bangsa Indonesia pernah “diasuh” lama oleh Belanda. Sehingga apa yang menjadi budaya Belanda (termasuk bahasanya) secara tidak langsung juga memengaruhi bahasa Indonesia itu sendiri. Tentang cerita bagaimana kata “gordijn bisa berubah menjadi “gorden,” hal tersebut sebenarnya murni karena pelafalan orang Indonesia saja.

Tak hanya “gorden,” beberapa kata dalam bahasa Indonesia juga banyak diambil dari bahasa Belanda, mulai dari “brug” (Jawa: jembatan), “handuk,” dan “dosen.” Nah, itu dia sedikit cerita mengenai asal muasal kata gorden dalam bahasa Indonesia. Semoga artikel ini akan semakin menambah khazanah pengetahuan kita semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *